KBRN,Sragen: Masyarakat di kawasan rawan bencana (KRB) longsor di Kabupaten Sragen diminta meningkatkan kewaspadaan. Hal ini menyusul kejadian longsor di beberapa titik di Jawa Tengah baru-baru ini.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga Sragen juga memasang early warning system (EWS) pendeteksi longsor terbaru di Dukuh Ngargorejo, Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe baru baru ini. Kini ada tiga titik kawasan rawan longsor di Bumi Sukowati, sebutan Sragen.
Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Sragen Danang Hermawan mengungkapkan, di Sragen sudah dilakukan penetapan status siaga darurat bencana hidrometeorologi tahun 2025-2026 khususnya banjir tanah longsor dan angin kencang. Dari status tersebut ditindaklanjuti dengan surat imbauan dari BPBD terkait kewaspadaan cuaca ekstrim dan tanah longsor.
Surat dari Kepala BPBD Sekda eks oficio untuk semua jajaran. Mulai dari OPD, Polri-TNI, semua Camat, Lurah, RT, dan ketua relawan seluruh Sragen terkait waspada cuaca ekstrim dan longsor," ucap Danang.
Menurutnya KRB longsor di Sragen ditetapkan menjadi tiga tempat dengan dipasang tiga EWS. Meliputi Desa Jetis dan Musuk Kecamatan Sambirejo dan terbaru Desa Bukuran Kecamatan Kalijambe.
"Longsor kita melakukan pemasangan EWS di Bukuran, baru dipasang untuk deteksi longsor. Kita lakukan simulasi juga kepada warga dan melakukan pengecekan EWS yang di Musuk dan Jetis. Desa rawan longsor itu yang jelas kita waspadai di Kecamatan Sambirejo di Dukuh Secang, Desa Jetis, sama Dukuh Sijeruk, Desa Musuk. Serta Dukuh Ngargorejo Desa Bukuran Kalijambe," ucap dia.
Selain tiga wilayah tersebut potensi longsor kecil akibat erosi juga rawan terjadi di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo. Menurutnya kejadian sepanjang 2025 cukup banyak.
Tak hanya longsor, BPBD Sragen juga mewaspadai banjir di DAS (daerah aliran sungai) Bengawan Solo dan anak Bengawan Solo. Sepanjang Bengawan Solo dari Kecamatan Masaran sampai Sambungmacan wilayah Cemeng ke timur perbatasan dengan Kabupaten Ngawi.
"Untuk banjir kita juga ada EWS. Kalau EWS banjir itu miliknya BBWS Bengawan Solo, yang banjir yang masih aktif di Mungkung dan Garuda (Anak sungai Bengawan Solo)," ujarnya.
Diakui Danang, BPBD sudah membuat surat kepada semua instansi yang intinya meningkatkan koordinasi untuk pemangku wilayah dan stakeholder terkait. Menurutnya yang diwaspadai adalah banjir angin kencang dan longsor.
"Karena ini masa transisi dari kemarau ke penghujan apalagi kabar terakhir, meskipun jauh dari Sragen ada informasi BMKG ada bibit badai siklon. Walaupun jauh dampaknya akan membuat gelombang tinggi, cuaca ekstrim," ucapnya
Lanjut dia, pada musim transisi sampai Nataru mendatang harus waspada tinggi. Utamanya Desa yang sudah terbentuk Destana (desa tangguh bencana) diimbau meningkatkan kewaspadaan.
"Kemungkinan terburuk mereka harus siap dan optimalisasi penggunaan dana desa. Kalau elevasi Bengawan Solo masih normal masih landai karena durasi hujan belum begitu tinggi." MI